General Motors (GM) saat ini berurusan dengan sejumlah masalah hukum terkait dengan tuduhan bahwa mereka telah menjual data pengemudi yang dikumpulkan dari kendaraan yang terhubung ke perusahaan pihak ketiga. Perusahaan-perusahaan pihak ketiga ini dilaporkan berbagi data dengan penyedia asuransi. Perselisihan hukum ini membawa perhatian pada meningkatnya kekhawatiran tentang privasi data di industri mobil dan kemungkinan bahwa informasi pribadi yang dikumpulkan tanpa izin yang jelas dapat disalahgunakan.
Pada bulan Februari, Jaksa Agung Arkansas Tim Griffin mengajukan gugatan terbaru terhadap GM dan anak perusahaannya, OnStar. Gugatan tersebut mengklaim bahwa GM telah secara ilegal menjual data pengemudi sejak 2015. Data ini, dikumpulkan melalui sistem kendaraan yang terhubung seperti MyChevrolet, Mycadillac, MyGMC, dan MyBuick, yang diduga mencakup informasi tentang kebiasaan mengemudi, lokasi, dan mungkin rincian sensitif lainnya. Tidak seperti program telematika tradisional yang mengharuskan pengguna untuk memilih, GM dituduh mengumpulkan data ini tanpa mendapatkan persetujuan yang jelas dari konsumen.
Gugatan tersebut berpendapat bahwa GM menyesatkan konsumen dengan membuat mereka percaya bahwa tujuan utama OnStar adalah untuk meningkatkan keselamatan dan kinerja kendaraan, daripada menghasilkan uang dengan menjual data. Gugatan Arkansas meminta kompensasi finansial untuk konsumen yang terkena dampak dan langkah -langkah hukum untuk menghentikan GM dari menjual data di masa depan.
Gugatan ini bukan insiden yang terisolasi. Pada Januari 2025, GM mencapai penyelesaian dengan Komisi Perdagangan Federal (FTC) atas tuduhan yang sama. Sebagai bagian dari penyelesaian, GM setuju untuk berhenti menjual data geolokasi dan mengemudi selama lima tahun dan berjanji untuk mendapatkan persetujuan eksplisit dari konsumen sebelum mengumpulkan data tersebut di masa depan. Sementara penyelesaian ini mengakui bahwa GM melanggar aturan di masa lalu, itu tidak sepenuhnya membahas masalah data yang sudah dijual.
Masalah hukum GM tidak berakhir di sana. Pada Agustus 2024, Jaksa Agung Texas Ken Paxton mengajukan gugatan terpisah terhadap GM, menuduh perusahaan menjual data mengemudi secara ilegal dari lebih dari 1,5 juta orang Texas. Kasus ini masih berlangsung, dan lebih lanjut menyoroti sifat luas dari dugaan praktik data GM. Selain tuntutan hukum tingkat negara bagian ini, GM juga menghadapi 27 tuntutan hukum class action yang terkonsolidasi. Tuntutan hukum ini mengklaim bahwa praktik data GM menyebabkan tarif asuransi yang lebih tinggi untuk pengemudi. Bersama -sama, tantangan hukum ini menimbulkan risiko yang signifikan bagi GM.
GM bukan satu -satunya perusahaan yang menghadapi masalah hukum semacam ini. Industri mobil dan sektor asuransi semakin di bawah pengawasan bagaimana mereka mengumpulkan dan menggunakan data pengemudi. Awal tahun ini, Texas juga menggugat Allstate dan anak perusahaannya Arity karena diduga mengumpulkan data driver dari smartphone tanpa sepengetahuan pengguna. Tuntutan hukum ini menunjukkan masalah yang lebih besar di industri: kurangnya transparansi dan persetujuan yang jelas dalam hal mengumpulkan dan menjual data pengemudi.
Data yang terlibat dalam tuntutan hukum ini sangat sensitif. Kendaraan yang terhubung mengumpulkan lebih dari sekedar jarak tempuh; Mereka dapat mengumpulkan informasi tentang kecepatan mengemudi, pola akselerasi, kebiasaan pengereman, dan lokasi GPS yang tepat. Data ini sangat berharga bagi perusahaan asuransi karena memungkinkan mereka untuk menilai risiko lebih akurat, yang dapat menyebabkan premi yang lebih tinggi untuk beberapa pengemudi atau bahkan penolakan pertanggungan.
Tuntutan hukum juga mengklaim bahwa GM dan perusahaan lain menyesatkan konsumen dengan menyembunyikan tujuan sebenarnya dari pengumpulan data, yang menambah kompleksitas etis dan hukum dari kasus -kasus tersebut. Hasil dari tuntutan hukum ini dapat memiliki konsekuensi besar bagi GM dan industri mobil secara keseluruhan. Jika GM ditemukan bertanggung jawab, itu bisa menghadapi hukuman keuangan yang signifikan dan berpotensi menetapkan preseden untuk aturan yang lebih ketat tentang bagaimana data pengemudi dikumpulkan, digunakan, dan dijual.
Kasus -kasus ini cenderung mempengaruhi standar industri, mendorong produsen mobil dan perusahaan asuransi untuk lebih transparan dan memprioritaskan hak -hak konsumen saat menangani data. Masa depan teknologi kendaraan yang terhubung tergantung pada mengatasi masalah privasi ini secara efektif, memastikan bahwa manfaat sistem mobil canggih tidak mengorbankan privasi individu dan keamanan data.